Minggu, 03 Januari 2021

PERSIAPAN BAHAN SIMPLISIA CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L)

 

PERSIAPAN BAHAN SIMPLISIA CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L)

(Review Laporan Praktikum Komponen Bioaktif)

I. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Indonesia menjadi salah satu  negara agraris yang memiliki tumbuh-tumbuhan yang melimpah dan beranekaragam. Hasil pertanian yang masih menjadi komoditas pokok masyarakat indonesia salah satunya yaitu cabai rawit (Capsicum frutescens L). Cabai rawit menjadi salah satu bahan hasil pertanian yang menjadi kebutuhan sehari hari masyarakat indonesia. Tumbuhan cabai rawit banyak di temui diberbagai wilayah di indonesia. Indonesia sendiri memiliki iklim tropis yang sangat cocok untuk tanaman cabai . Sehingga di indonesia tumbuhan cabai memiliki banyak varietas (Parfiyanti et al, 2016).

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia memicu meningkatnya kebutuhan cabai. Hal ini disebabkan menjadi salah satu hasil hortikuttura yang tidak dapat dipisahkan oleh masyarakat karena banyak sekali makanan dan olahan berbahan cabai atau sebagai bumbu pelengkap. terutama penggunaannya dalam skala rumah tangga. Produksi cabai rawit segar dengan tangkai sebanyak 702.25 ribu ton diIndonesia pada tahun 2012, sedangkan produksi cabai besar segar dengan tangkai sebanyak 954.36 ribu ton (Badan Pusat Statistik, 2013).

Cabai rawit (Capsicum frutescens L) memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Selain mengandung vitamin C yang baik bagi kesehatan cabai juga memiliki senyawa bioaktif yang berguna bagi tubuh. Cabai memiliki rasa pedas yang banyak diminati oleh berbagai kalangan. Senyawa yang menyebabkan rasa pedas pada cabai yaitu capsaicinoid yang merupakan golongan alkaloid (Musfiroh et al, 2009). Berbagai metode dikembangkan oleh para peneliti untuk melakukan ekstraksi senyawa bioaktif pada cabai atau identifikasi senyawa didalamnya. Sebelum melakukan percobaan diperlukan sampel uji berupa simplisia cabai (bahan baku murni yang belum diolah dan berupa bahan kering). Oleh sebab itu percobaan ini penting dilaksanakan untuk mengetahui cara pembuatan simplisia.

1.2. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu mampu menyiapkan simplisia dengan kualitas dan mutu yang tetap terjaga sehingga kandungan zat berkhasiat tidak mengalami kerusakan dan dapat disimpan lebih lama.


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi cabai rawit

Budidaya tanaman cabai sudah banyak di temukan dan dikembangkan di Indonesia. Cabai dikenal dengan kandungan capsaicin sehingga  memiliki rasa pedas. Cabai (Capsicum frutescens L) termasuk dalam tanaman yang hidup pada iklim tropis. Cabai (Capsicum frutescens L) merupakan tumbuhan yang memiliki batang berdiri tegak dan berkayu, serta banyak memiliki Cabang (Setiadi, 2006). Klasifikasi tanaman cabai menurut Wiryanta (2006) adalah sebagai berikut:

Kingdom         :           plantae

Divisi               :           spermatophyte

Subdidisi         :           angiospermae

Class                :           dicotyledonae

Ordo                :           solanales

Familia            :           Solanaceae

Sub Familia     :           Solanaceae

Genus              :           Capsicum

Spesies            :           Capsicum frutencens L

Menurut Rukmana (2002) kandungan cabai rawit segar dan yang sudah dikeringkan sebagai berikut.

Tabel 1. Kandungan nutrisi setiap 100 gram cabai rawit segar dan kering

No

Komposisi

proporei kandungan gizi

Segar

Kering

1

Kalori

103

-

2

Protein (g)

4,7

15

3

Lemak (g)

2,4

11

4

Karbohidrat (g)

19,9

33

5

Kalsium (mg)

45

150

6

Fosfor (mg)

85

-

7

Vitamin A (Si)

11.050

1.000,00

8

Zat besi (mg)

2,5

9

9

Zat besi (mg)

0,08

0,5

10

Vitamin C (mg

70

10

11

Air (g)

71,2

8

(sumber : Rukmana, 2002)


2.2. Senyawa BIoaktif

 Cabai merupakan komoditas yang banyak dimanfaatkan oleh berbagai kalangan masyarakat terutama dalam makanan yang memiliki  rasa pedas. Penambahan cabai dalam makanan mampu menambah cita rasa tersendiri. Rasa pedas yang ditimbulkan dalam cabai yaitu karena keberadaan senyawa capsaicinoid. Rasa pedas pada cabai rawit (Capsicum frutescens L) memiliki tingkat kepedasan tertinggi dibandingkan cabai besar (Capsicum annuum ). (Giuffrida et al, 2013).

Buah cabai tidak hanya mengandung vitamin dan tetapi mengandung mineral. Buah cabai rawit memiliki komponen bioaktif berupa fenol, flavonoid dan capsaicinoid yang  sangat baik bagi tubuh. Selain itu cabai juga mengandung beberapa asama fenolat seperti asam ferulat, asam kumarat, dan asam cinamat. Senyawa bioaktif pada cabai sangat berperan penting dan sebagai senyawa antioksidan bagi tubuh. Sehingga mampu menangkal radikal bebas dalam tubuh (Chen et al, 2012).


III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Prosedur Penyiapan Bahan Simplisia

Prosedur kerja pada praktikum ini dilakukan denagan mula-mula cabai rawit di sortasi dan dipsahkan berdasarkan warnanya dan komponen lain seperti batu. Proses selanjutnya penimbangan dan dilanjutkan pencucian cabai dan dihilangkan kotoran yang menempel pada bahan. Tahap selanjutnya sortasi basah serta pemotongan cabai untuk mempercepat prosese pengeringan. Setelah itu cabai dikeringkan dengan cara dijemur hingga 7 hari. Selanjutnya dilakukan penghalusan dengan blander dan penimbangan berat akhir.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1       Pembahasan

 Proses pembuatan simplisia cabai rawit (Capsicum frutescens L) pada percobaan ini dilakukan dengan metode pengeringan sederhana yaitu penjemuran di terik matahari. Sebelum dilakukan pengeringan cabai telah disortasi untuk memisahkan komponen cabai dari kotoran. Kemudian dilakukan pencucian dan sortasi basah yang bertujuan menghilangkan kotoran yang menempel pada bahan. Metode.

pengeringan pada percobaan ini menggunakan metode alami yang telah dilakukan oleh para petani cabai dalam membuat cabai kering. Sebelum dilakukan penjemuran cabai di potong dengan ukuran kecil hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkecil permukaan bahan dan memudahkan keluarnya uap air dari bahan sehingga dapat mempercepat proses pengeringan. Cabai yang dipotong atau dibelah efektif lebih cepat kering dibandingkan cabai yang dikeringkan dalam keadaan utuh (Siswoputranto 1973).

Proses pengeringan secara alami memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari pengeringan dengan metode sderhana yaitu tidak memerlukan bahan bakar atau alat tertentu sehingga biaya pengeringan murah. Kekurangan dari metode ini yaitu suhu pengeringan dan kelembapan tidak dapat dikontrol selain itu paparan cahaya matahari tidak konstan bahkan cuaca dapat berubah-ubah dalam sehari. Sedangkan pengeringan menggunakan oven dapat mengontrol suhu dan kelembaban sehingga waktu pengeringan lebih singkat, akan tetapi memerlukan biaya yang relative lebih mahal. Sehingga pada metode percobaan ini cuaca akan sangat berpengaruh terhadap waktu lama pengeringan (Hartuti dan Sinaga, 1997).

Selama proses pengeringan sifat fisisk simplisia akan mengalami perubahan seperti warna, penampakan dan komponen lainnya. Menurut Parfiyanti et al (2016) pengeringan pada suhu ruang tidak mempengaruhi kandungan vitamin C pada cabai sedangkan pengeringan diatas 50oC selama 12 jam kandungan vitamin C nya berkurang. Sehingga pada proses penjemuran dibawah terik matahari dengan kisaran suhu 30-35 oC kandungan vitamin C masih ada meskipun terdapat kemungkinan hilangnya vitamin C dalam jumlah yang sedikit. Menurut Alif (2017) kandungan vitamin C pada cabai kering lebih sedikit dibandingkan cabai segar. Sehingga suhu dapat mempengaruhi kadar vitamin dalam cabai.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil yaitu berupa warna yang tidak seragam, serta sedikit kecoklatan. Selain itu mengalami susut bobot akibat hilangnya air dalam bahan. Sampel cabai mentah sebelum dikeringkan dengan berat 144 gram setelah dikeringkan menjadi 24,5 gram. Sehingga pada percobaan ini diperoleh rendemen sebesar 17,01 %. Menurut penelitian yang dilakukan angelista (2016) pembuatan simplisia dengan pengeringan tradisional diperoleh rendemen sebesar 19,91 %. Perbedaan ini diakibatkan oleh pengaruh jenis cabai, serta prosess pengeringan yaitu cuaca yang dapat mempengaruhi hasil rendemen bahan. Pengeringan ini dilakukan selama 7 hari hingga cabai kering. Menurut Nur dan Sinaga (1997) pengeringan selama 7 hari mampu menurunkan kadar air bahan hingga diperoleh kadar air pada cabai kering 11-12%.

Menurut Hartuti dan Sinaga (1995) Mutu cabai setelah dikeringkan dengan pengeringan tradisional sebagai berikut.

Tabel 2. Mutu cabai setelah dikeringkan

Komponen

Pengeringan Tradisional

Kadar air (%)

12,96

Vitamin C (mg/100 g)

180,68

Zat padat terlarut (%)

55,82

Kadar abu (%)

7,27

Kepedasan (SU)

1770,00

Warna

Tidak seragam

Penampakan

Ada yang coklat

Suhu (°C)

42

Kelembaban (%)

49

 

Berdasarkan mutu cabai yang dihasilkan secara penampakan fisik pada percobaan ini telah sesuai, yaitu warna yang tidak seragam dan penampakan sedikit kecoklatan. Hal ini disebabkan terjadinya reaksi browning enzimatis yaitu reaksi antara enzim polifenol oksidase dengan oksigen yang menyebabkan warna kecoklatan. Selain itu pada pembuatan simplisia ini cabi mengalami susut bobot akibat kehilangan air. Sehingga diperoleh bubuk cabai kering dengan kadar air yang rendah. Pemanfaatan simplisia ini banyak digunakan sebagai bahan uji dan percobaan seperti halnya ekstraksi senyawa bioaktif di dalamnya. Selain itu metode pengeringan cabai ini telah digunakan sebagai salah satu cara pengawetan sederhana untuk memperpanjang masa simpan cabai. Sehingga meningkatkan nilai ekonomis serta sebagai salah satu metode penanggulangan angka fluktasi cabai (Arifin, 2010).


V. KESIMPULAN

Kesimpulan yang diproleh berdasarkan praktikum ini yaitu pembuatan simplisia dapat dilakukan dengan metode pengeringan secara tradisonal melalui penjemuran dibawah sinar matahari atau dengan menggunakan oven, kandungan dan kualitas simplisia akan tetap terjaga apabila pengeringan pada suhu ruang dibawah suhu 50 oC dan dilakukan dengan baik terutama saat sortasi dan pencucian agar terhindar dari komponen lain yang tidak diinginkan.


DAFTAR PUSTAKA 

Alif, M. 2017. Kiat Sukses Bududaya Cabai Rawit. Bio Genesis. Yogyakarta.

Angelista, R. H. E. 2016. Penetapan Kadar CApsaisin dan Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Toulen-Etil Asetat Buah Cabai Rawit (Capsicum frutescens L) dengan Metode 2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil (DPPH). Skripsi. Universitas Sanata Dharma.

Arifin, 2010 Arifin, I. 2010. Pengaruh Cara dan Lama Penyimpanan Terhadap Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 2013. Produksi Cabai Besar, Cabai Rawit, dan Bawang Merah Tahun 2012. Berita Resmi Statistik No.54/08/ Th. XVI Mutu Cabai Rawit (Capsicum frutescens L). var. Cengek). Skripsi. Malang: Fakultas Sains dan Teknologi, UIN.

Chen, L, Hwang, J, E, Gu, K, M, Kim, J, H, Choi, B, Song, K, S, Park Y, Kang, Y, H. 2012. Comparative study of antioxidant effects of five Korean varieties red pepper (Capsicum annuum L) extracts from various parts including placenta, stalk, and pericarp. Food Science and Biotechnology. Vol 21(3):715-721.

Giuffrida 2013 Giuffrida, D, Dugo, P, Torre, G, Bignardi, C, Cavazza, Corradini, C, Dugo, G. 2013. Characterization of 12 Capsicum Varieties By Evaluation Of Their Carotenoid Profile And Pungency Determination. Food Chemistry. Vol 140(4):794-802.

Hartuti, N. dan R. M. Sinaga. 1997. Pengeringan Cabai. Monograf No.8. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.

Lingga, L.2012. Health Secret Of Peper (Cabai). Elex Media Komputindo. Jakarta.

Musfiroh, I, Mutakin, Angelina, T, Muchtaridi. 2013. Capsaicin level of various capsicum fruits. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. Vol 5(1):248-251

Nur dan Sinaga. 1997. Pengeringan Cabai. Monograf No.8. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.

Prajnanta,F.2007. Agribisnis Cabai Hibrida Penerbit Swadaya. Jakarta

Parfiyanti,E.A., R. Budihastuti, dan E.D. Hastuti.2016. Pengaruh Suhu Pengeringan Yang Berbeda Terhadap Kualitas Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.). Jurnal biologi. Vol 5(1) : 2-4.

Rukmana,R.2002. Bertanam Cabai Rawit. Kanisius. Yogyakarta

Setiadi.2006. Cabai Rawit Jenis dan Budidaya. Penerbit Swadaya. Jakarta

Siswoputranto, L.D. 1973. Percobaan Pengeringan Cabai Merah. Bull.Penel.Hort. Lembaga Enelitian Hortikultura Pasarminggu. Vol 1(4) : 5-12.

Tjandra,E.2011. Cabai Rawit Di Polybag. Cahaya Atma Pustaka.Yogyakarta.

Wiryanta.2006. Bertanam Cabai Pada Musim Hujan. Agromedia. Tanggerang.


0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer